IDIK M S PRODUCTIONS. Diberdayakan oleh Blogger.

Terjemahan

Sabtu, 15 Desember 2012

Perlu Memahami Tugas Jurnalis

Perlu memahami tugas seorang jurnalis (wartawan) oleh semua pihak, bukan saja si jurnalis (wartawan) akan tetapi semua pihak tanpa terkecuali. Wah, luar biasa. Benar luar biasa karena ternyata tugas-tugas jurnalis itu sangat, sangat dan sangat luar biasa. Bila semua pihak mengetahui tugas-tugas jurnalis (wartawan) yang luar biasa itu maka kebiasaan yang terjadi pada diri jurnalis (wartawan) yakni tindak kekerasan terhadap jurnalis dapat diminimalisir dan bahkan dihilangkan. Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers memang sudah melindungi. Artinya, payung hukum bagi jurnalis (wartawan) sudah ada. Namun, UU akan bermakna bila pihak-pihak mengetahui, memahami dan melaksanakan dari amanat UU yang ada. Selama tidak mengetahui, apa lagi memahami maka akan sulit melaksanakan amanat UU yang sudah ada itu.

Sederetan peristiwa tindak kekerasan kepada jurnalis (wartawan) ketika melaksanakan tugasnya terus terjadi di Republik ini dan setiap kali terjadi tindak kekerasan selalu muncul protes, unjukrasa dari para insan pers. Wajar dan sah-sah saja akan tetapi bagaimana agar kasus serupa tidak lagi berulang. Hal ini yang paling utama sehingga tidak muncul lagi protes, unjukrasa stop kekerasan terhadap jurnalis, hentikan tindakan main hakim sendiri, tindak pelaku terhadap kekerasan kepada jurnalis dan lain sebagainya.

Pemerintah Indonesia Gagal

Bila dikatakan Pemerintah Indonesia sekarang ini gagal dalam segala hal, ada pihak yang tidak terima meskipun faktanya hampir semua hal Pemerintah Indonesia gagal. Standarisasinya mudah. Selama pemerintah itu belum mampu melaksanakan amanat Undang Undang Dasar (UUD) 1945 secara baik dan benar dapat dikatakan Pemerintah gagal.


Dalam UUD 1945 diamanatkan pemerintah (Negara) menjamin keselamatan semua warga Negara Indonesia tanpa terkecuali, baik yang berada di tanah air maupun yang berada di luar negeri. Para jurnalis (wartawan) bagian kecil dari warga Indonesia yang harus dilindungi menurut amanat UUD 1945 dan hebatnya lagi diperjelas, dipertegas dengan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Wajar dan baik sebab insan pers (jurnalis) atau wartawan merupakan warga Negara yang dalam tugasnya memiliki spesifik tersendiri. Jurnalis (wartawan) memang tugas yang luar biasa. Dahulu juga sudah begitu, penulis teringat ketika April 1987 (25 tahun yang lalu) yang bertepatan ketika itu bulan Ramadhan (puasa) terjadi Gempa bumi tektonik di Tarutung, Tapanuli Utara Sumatera Utara. Hampir semua warga Tarutung khususnya dan umumnya kabupaten Tapanuli Utara mengungsi (meninggalkan) Tapanuli Utara, tetapi penulis (kala itu wartawan Mingguan Demi Masa) datang ke Tarutung bersama rekan wartawan lainnya seperti Idris Pasaribu (Harian Analisa), Bersihar Lubis (Majalah Tempo) dan lainnya.

Ketika mau ke Tarutung, orangtua penulis marah dan tidak memberi izin berangkat sebab menurut orangtua penulis sangat beresiko. Meskipun tidak mendapat izin, penulis akhirnya pergi juga ke lokasi gempa bumi itu. Wajar dan sah saja orangtua penulis marah karena menurutnya bukan kerjaan dengan menantang resiko yang besar.

Panggilan Tugas

Setiap aktivitas, pekerjaan pasti memiliki resiko. Namun, ada pekerjaan, tugas yang memiliki resiko besar, sedang dan kecil. Tinggal pilih, mana yang menjadi pilihan dan ketika pilihan sudah ditambatkan, ditentukan maka panggilan tugas harus dilaksanakan.

Seorang prajurit (tentara) meskipun pekerjaan itu memiliki resiko yang besar bila sudah menjadi panggilan tugas pasti dilaksanakan. Seorang prajurit (tentara) harus siap, kapan saja, dimana saja dipanggil untuk berperang di medan perang. Resiko yang dihadapi pasti luar biasa, hidup atau mati akan tetapi tidak menjadi masalah.

Seorang jurnalis (wartawan) juga karena panggilan tugas bahkan dikatakan panggilan jiwa maka resiko dalam tugas tidak menjadi masalah. Para jurnalis (wartawan) juga hadir di medan perang. Hebatnya lagi hadir di medan perang tanpa memanggul senjata akan tetapi hanya memanggul camera. Resiko yang dihadapi luar biasa dan hebatnya sudah menjadi hal yang biasa bagi para jurnalis (wartawan) hadir di daerah komplik.

Peristiwa jatuhnya pesawat Hawk 200 di jalan Amal kompleks perumahan Pandau Permai Kabupaten Kampar, Riau Selasa (16/10) bagi para jurnalis (wartawan) bukan sebuah resiko besar, akan tetapi berita (news) bernilai besar maka harus diliput sebagai panggilan tugas.

Menariknya bukan si jurnalis (wartawan) yang mendapat kecelakaan atau bahaya dari jatuhnya pesawat akan tetapi mendapat perlakuan (kekerasan) terhadap wartawan yang hendak meliput dari seorang oknum perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan alasan ingin mengamankan lokasi jatuhnya pesawat Hawk 200 dari bahaya manusia yang ada di sekitarnya.

Bila mengamankan lokasi dari bahaya mengapa yang terjadi tindak pemukulan (kekerasan) dari oknum perwira TNI itu. Tidak relevan, bertolak belakang pernyataan dengan fakta. Logikanya melarang jangan memberitakan, jangan mengambil gambar (sebab kamera dirampas) atas peristiwa jatuhnya pesawat Hawk 200 itu.

Nah, dalam konteks ini dan banyak peristiwa kekerasan yang dialami para jurnalis (wartawan) umumnya ketidaksenangan oknum tertentu terhadap jurnalis (wartawan) memberitakan satu peristiwa. Hal ini jelas bertentangan dengan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers dan boleh jadi belum mengetahui, memahami dan melaksanakan UU tersebut. Bila memahami tugas-tugas jurnalis yang dilindungi UU maka tindakan kekerasan pasti tidak terjadi.

Perlu pemahaman semua pihak dari tugas-tugas jurnalis tanpa terkecuali. Tegasnya pemahaman itu belum baik sehingga setingkat perwira saja belum mengetahuinya. Wajarlah dahulu (1987) orangtua penulis marah dan melarang penulis meliput peristiwa gempa bumi di Tarutung. Akan tetapi itu 25 tahun yang lalu, sekarang tidak lagi bahkan sebaliknya karena sudah memahami. ***

Penulis adalah pemerhati masalah sosial, ekonomi dan budaya serta menjadi jurnalis sejak tahun 1984.

0 komentar:

IDIK M S

IDIK M S

Cari Data

Memuat...
Blog ini memuat segala hal yang berkaitan dengan Jurnalistik dan kewartawanan, baik bersifat organisasi maupun trik-trik dalam penulisan berita

Berita Terkini

Loading...